Monday, 14 November 2011

Rahmad Darmawan Ternyata Seorang Kolektor Topi


Satu hal yang menjadi ciri khas pelatih timnas Indonesia U-23, Rahmad Darmawan, adalah topi yang hampir selalu ia kenakan. Lalu, seperti apa kegemarannya terhadap topi?

Saat menerima sejumlah wartawan untuk wawancara di kamar hotelnya, terlihat sekitar 10 topi menumpuk di salah satu sudut sofa. Ternyata, mantan pelatih Persikota Tangerang itu sangat gemar terhadap aksesoris penutup kepala tersebut.

"Saya memang punya banyak sekali topi. Kemana-mana saya bawa banyak topi. Ini belum termasuk yang di mobil. Istri saya suka repot kalau mau pergi karena dia musti siapkan banyak topi," ujarnya.

"Istri saya sampai bilang, 'kepala cuman satu aja, topinya banyak banget'," ungkap pelatih sambil tersenyum.

Pelatih yang akrab disapa RD itu mengaku mulai gemar mengenakan topi saat menginjak usia SMP, diilhami pelatihnya.

"Saya suka memakai topi itu sejak SMP. Waktu itu pelatih SMP saya memakai topi yang saat itu lagi nge-trend," ujar pelatih yang akrab disapa RD itu. "Dari situ saya suka topi."



Rahmad juga mengungkapkan bahwa meski dirinya gemar mengenakan topi, ia bukanlah seorang kolektor topi. Saat ini saja, jumlah topinya sudah mencapai ratusan.

"Lemari saya itu bagian atasnya penuh dengan topi. Itu tidak termasuk topi-topi saya jaman SMP. Kalau yang dulu-dulu sudah nggak tahu kemana. Kalau ada teman-teman datang dan tertarik, ya sudah saya berikan," jelasnya.

Pelatih yang pernah meraih gelar juara bersama Sriwijaya FC dan Persipura Jayapura inipun kerap memborong topi. Ia juga menyatakan tak punya warna favorit.


"Ya, kalau sekali beli saya memang langsung beli banyak, tidak ada merek favorit. Warna juga tidak ada, tetapi memang kebanyakan warna hitam," tambahnya.

Jenis topi yang dimiliki RD adalah model topi bisbol, dengan pelindung sinar matahari di bagian depan. Namun ia juga banyak memiliki topi haji.

"Topi haji saya juga kemarin beli banyak, tetapi tidak sebanyak topi yang biasa itu. Kalau ini (topi haji) saya kebetulan pas suka modelnya, jarang ada," tutupnya.

Saat ini, Rahmad Darmawan tengah membesut timnas Indonesia U-23 berlaga di SEA Games 2011. Sosoknya mudah dikenali dengan topi yang dikenakannya saat berdiri di pinggir lapangan, sambil memberikan instruksi kepada Titus Bonai dkk.

Friday, 11 November 2011

Beberapa Pemain Timnas U-23 akan Dikirim Berlatih ke PSV Eindhoven


Setelah pemain Tunas Garuda menjalani latihan di markas Arsenal, giliran dua pemain berbakat lagi dari Timnas U-23 akan mengikuti latihan sepekan di klub elit asal Belanda, PSV Eindhoven, awal 2012. Saat ini pengajuan kerjasama dengan klub Eindhoven sudah tahap final.

“Kami sudah kirimkan permintaan ke mereka, tinggal menunggu konfirmasi saja,” kata Direktur Event Saujana Media, S.T. Arasu di Hotel Sultan, Kamis, 10 November 2011.

Arasu mengatakan pengiriman dua pemain Indonesia untuk ikut berlatih bersama PSV Eindhoven merupakan bagian dari kerjasama mereka untuk mendatangkan PSV ke Jakarta. Ia menyerahkan dua pemain yang akan berlatih di Belanda itu kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). "Mereka minta satu atau dua (pemain), dipilih PSSI," katanya.

Ketua Umum PSSI Djohar Arifin mengatakan pihaknya kemungkinan akan memilih dua orang tersebut dari pasukan tim sepak bola nasional (timnas) U23 yang saat ini dilatih Rahmad Darmawan. "Dua pemain kalau jadi ke PSV Eindhoven akan kita minta pada Rahmad Darmawan, pemain muda," kata Djohar.

Djohar mengatakan selain berencana mengirim 2 pemain junior ke PSV Eindhoven, PSSI juga telah menyiapkan nota kesepahaman dengan otoritas sepak bola Belanda (KNVB) untuk membantu pembinaan usia muda di Indonesia. "Kita telah siapkan MoU dengan KNVB karena mereka sangat bagus pembinaan usia mudanya," katanya.

Source: Here

Wednesday, 9 November 2011

André Wetzel, Pelatih Asal Indonesia yang Sukses di Luar Negeri

André Wetzel adalah sosok idaman bagi sepakbola nasional Indonesia. Arek Suroboyo ini punya pengalaman internasional dan berkarakter bijaksana. Dia sedang cari klub.

Pria keturunan Indonesia ini baru dua hari melepas jabatan sebagai direktur teknis di klub Al Jazira, Arab Emirat. Pelatih -berdomisili Den Haag- itu berhenti karena kehabisan tantangan dan kangen rumah. Mungkin melatih timnas Indonesia atau CS Visé klub Bakrie di Belgia sebagai alternatif bagus.

Sukses
Kepada televisi Belanda NOS, André Wetzel menyatakan tugas di Al Jazira sudah rampung. Wetzel usai menggarap proyek besar membangun akademi sepak bola senilai delapan juta euro (sekitar 100 milyar rupiah).
"Proyek sebenarnya sudah rampung dan secara sportif juga sukses," tukas André Wetzel. "Untuk pertama kali sejak 34 tahun, Al Jazira meraih 'the double': Juara Liga nasional dan juga Juara Presidents Cup."
Alasan lain dari pria kelahiran Surabaya, 3 November 1951 untuk berhenti dari tugas di Abu Dhabi, karena ingin kumpul dengan anak-anak dan istri. Kepada NOS dia mengatakan anak bungsu sangat rindu. "Anak-anak saya usianya 9 dan 12 tahun. Si bungsu ini yang merasa berat kalau jauh dari saya."

Jadi pelatih
Walau demikian ia belum ingin berpaling dari dunia sepak bola. Dia bahkan berminat merumput lagi sebagai pelatih lapangan. "Saya sebenarnya tidak mudah menyerahkan kontrak. Tetapi pekerjaan saya di sana sudah selesai. Saya sampaikan alasan ini pada direksi Al Jazira dan mereka positif," demikian Wetzel kepada koran Algemeen Dagblad.
Wetzel menyatakan akan mencari tantangan baru. "Harapannya sekarang ini menjadi pelatih yang turun ke lapangan. Paling bagus di klub profesional. Klub yang punya ambisi ke depan, tapi klub amatir di Topklasse (Divisi tiga) pun tidak masalah."

Cocok untuk Garuda
Kalau melihat pengalamannya maka Wetzel lebih cocok daripada pelatih timnas Garuda senior Wim Rijsbergen atau Rahmad Darmawan, pelatih U-23. Menurut amatan Radio Nederland, pelatih keturunan Indonesia ini punya nilai positif. Mengenal budaya Asia, baik dari sisi keturunan maupun sisi pengalaman di Abu Dhabi.
Wetzel terbukti sukses mengantarkan Al Jazira meraih double Juara Liga dan Juara Piala Presiden di Uni Emirat Arab. Rahmad Darmawan belum memiliki pengalaman internasional seperti Wetzel. Satu lagi sisi positif Wetzel dibanding Rijsbergen adalah penguasaan bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) yang mencukupi untuk bisa berkomunikasi.
Satu hal yang mungkin menghalangi, pelatih kelahiran Surabaya ini berangkat ke Indonesia adalah keluarganya. Anak-anaknya masih relatif kecil dan butuh perhatian. Maukah mereka diajak pindah sementara ke Indonesia?

CS Visé
Kalau jawabannya negatif, maka ilmunya masih tetap bisa ditularkan untuk sepakbola Indonesia. Salah satu kemungkinan adalah merekrutnya untuk menjadi pelatih CS Visé. Sejak klub liga dua Belgia ini menjadi milik keluarga Bakrie, ada beberapa pemain asal Indonesia yang mendapat peluang mencoba di liga Eropa. Sejak Juni 2011 ini Yandi Munawar (25 Mei 1992), Yericho Christiantoko (14 Januari 1992) dan Alfin Tuasalamony (13 November 1992) dipindahkan dari pelatihan SAD di Uruguay ke Belgia.
Jarak Visé Belgia dengan Den Haag, tempat tinggal keluarga Wetzel hanya 230 km. Jarak ini memenuhi syarat. Pada wawancara dengan NOS, André Wetzel menyebutkan mau melatih di luar negeri, asal jangan terlalu jauh. Berarti Visé masuk kategori ini.
Apalagi mengingat klub yang berafiliasi dengan Pelita Jaya punya ambisi besar. Di situs CS Visé, disebutkan ingin melangkah ke liga utama Belgia dalam beberapa tahun. Nah, André Wetzel adalah orang yang mampu merealisasikannya. Seperti halnya ketika dia menukangi VVV Venlo meraih sukses menjuarai Eerste Divisi dan naik ke liga utama Belanda musim 2007-2008.

Source: Here

Saturday, 5 November 2011

Riedl: Indonesia Bepeluang Rebut Emas SEA GAMES

Mantan pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl menyebut, Indonesia berpeluang sangat besar menjadi juara untuk cabang sepakbola SEA Games XXVI. Hal itu dikatakan Riedl yang kini menjabat Direktur Teknik Timnas Laos saat di Jakarta kemarin


Saya banyak tahu tentang mayoritas pemain di sini. Saya kira Indonesia punya peluang untuk menjadi juara, ujar Riedl setelah mendampingi tim Laos berlatih di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.


Riedl mengaku sangat terkesan dengan multieven SEA Games yang digelar di Indonesia. Sebaa, dia bisa kembali menyaksikan antusiasme pencinta sepakbola di Tanah Air. Ya, saya akan melihat lagi antusiasme penonton di sini yang begitu besar. Dan itu sangat membahagiakan saya, ujar pelatih asal Austria itu.


Riedl sebelumnya menangani Timnas Indonesia di Piala AFF pada Desember 2010. Setelah diberhentikan secara sepihak oleh PSSI, Laos yang pernah menunjuknya sebagai pelatih timnas pada 2009 kemudian menariknya kembali. Sementara pelatih kepala Timnas Laos dipercayakan kepada Hans Peter Schaller yang merupakan rekan senegara Riedl.


Mengenai peluang Laos, Riedl menjawab datar. Ia mengatakan, timnya akan berupaya meraih prestasi lebih baik dibanding SEA Games dua tahun lalu. Pada Pada SEA Games XXV di Laos, tim tuan rumah berhasil mencapai semifinal, menduduki peringkat keempat.


Source: Here

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons